Senin, 06 April 2009

MERANCANG CORPORATE MIX FARMING DI NUNUKAN




MERANCANG CORPORATE MIX FARMING DI NUNUKAN
(UBIKAYU-SAPI-AREN VS CASSAVA FLOUR-PUPUK –OBAT ORGANIK-BIOETHANOL-GULA-SYRUP)

Oleh : Dian Kusumanto

 Rancangan ini bermula dari keprihatinan terhadap para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hijau Lestari di kampung Mamolo Nunukan. Dari keterangan para petani anggota yang berjumlah 20 orang, tingkat pendapatannya rata-rata masih sangat rendah bahkan di bawah UMR. Mereka mengusahakan lahan sawah sekitar 25 hektar dan lahan kering seluas 50 hektar. Pendapatan mereka rata-rata di bawah Rp 700.000 per bulan.

  Beberapa kali pertemuan menunjukkan bahwa mereka bukan tipe petani yang malas, mereka sangat rajin, hampir tiada hari tanpa memegang cangkul atau parang dan berkebun atau ke sawah. Sawah ditanami padi hanya sekali dalam setahun kadang juga dua kali, lahan keringnya sebagian besar belum tergarap . Sebagian kecil sudah digarap dengan menanam ubikayu, jagung, Lombok, tomat, kacang tanah, pohon pisang, pohon durian, dll.  

 Dengan keadaan fasilitas yang apa adanya tenaga mereka tidak mencukupi untuk mengelolaha lahan yang ada. Modal tidak cukup untuk mengelola lahan semuanya. Kadang pada saat diperlukan pupuk atau obat hama modal belum tersedia dan akhirnya tanaman sering mengalami gagal panen. Pada saat harus mengelola sawah, kadang-kadang pekerjaan yang belum selesai di lahan kering terpaksa ditinggalkan. Mereka belum mampu mengelola perencanaan usaha tani dengan matang, iklim kadang mengacaukan rencana. Alat mesin pertanian yang terbatas belum sepenuhnya mampu membantu mengatasi kendala musim ini.

 Diskusi pun sering dilakukan untuk mencari cara “mengubah nasib” petani dari yang serba pas-pasan menuju petani yang bergairah dengan pendapatan dan kehidupan yang sejahtera. Beberapa pemikiran pun dilontarkan, yang terakhir adalah rancangan Corporate Mix Farming (selajutnya disingkat CMF). Maka dimulailah dari alternative komoditi yang paling gampang dikembangkan, paling cocok dengan iklim dan tanah setempat dan petani sudah familiar mengelolanya, yaitu Singkong atau Ubikayu.

 Dengan pola CMF ini pengelolaan system usaha tani memadukan beberapa komoditi secara sinergis, memanfaatkan seluruh produk samping (dulu disebut limbah) menjadi bahan pendukung lainnya sehingga memberi nilai tambah bagi sub system lainnya secara saling isi mengisi. Sistem usaha tani menjadi jaringan yang tertutup bahkan tanpa input dari luar system, karena kesinergisannya antar sub system bisa saling menutupi kekurangannya.

 Konsep ini meneruskan pola sinergi pangan pakan dan energy yang telah dibahas sebelumnya, yaitu antara Aren sebagai tanaman jangka panjang dengan Ubikayu atau singkong sebagai tanaman sela pengisinya, ditunjang oleh Sapi sebagai titik kunci penghubung antar subsistem dari ketergantungan input dari luar. Untuk memulainya pakan diambilkan dari subsystem sawah yaitu limbah jerami padi. 

Ciri korporasinya terletak pada peningkatan nilai tambah dari produk-produk yang dihasilkan, meliputi pabrik pengolah Singkong menjadi tepung Cassava atau tepung Mocal, pabrik pengolah Bioethanol, Pabrik Pengolah Gula, Unit Pengolah Limbah Organik menjadi Pupuk dan Pestisida Organik, Unit pengelolaan pakan ternak, Unit Pengelola Produk-produk lainnya, dll. Oleh karena itu dalam mengelola CMF ini Kelompok Tani masih bekerja sama dengan suatu Koperasi dan beberapa lembaga pendampingan dari Pemerintah dan LSM.

 Rancangan CMF ini untuk lahan sawah 25 hektar dan lahan kering 50 ha, secara garis besar sebagai berikut :

1. Lahan sawah seluas 25 ha ditanami padi 2 kali dalam setahun dan sekali atau semusim ditanami palawija berupa kacang tanah atau jagung. Dari lahan sawah ini padinya dikelola oleh masing-masing petani sebagaimana biasanya, namun limbahnya yang berupa jerami dimanfaatkan oleh CMF untuk persiapan pakan ternak sapi. Jerami padi yang akan diproduksi adalah sekitar 1,5 kali produksi padinya, jika produksi bisa mencapai 5 ton per hektar, maka jerapi yang dihasilkan dari 25 ha lahan sawah selama 2 kali musim tanam adalah 1,5 x 5 ton/ha x 2 musim/tahun x 25 ha/musim = 375 ton Jerami per tahun.

Penggunaan pupuk dan obat-obat hama secara berangsur dikurangi dan total tidak menggunakan ketika unit pembuatan pupuk dan pestisida organic sudah berjalan Sebenarnya dengan hanya menggunakan pupuk organic sendiri dengan jumlah yang cukup hasil Padi dan palawija dapat ditingkatkan lebih tinggi lagi.


2. Dari jerami 375 ton per tahun dapat untuk dijadikan cadangan pakan sapi sekitar 1 ton per hari, atau bisa member pakan kepada sekitar 40 ekor Sapi Bali (dengan pakan rata-rata 25 kg/ekor/hari). Jerami-jerami ini ditampung pada suatu tempat atau disebut sebagai Gudang Jerami atau Gudang Pakan Sapi, sebab nanti setelah Ubikayu mulai panen aka nada sumber pakan baru berupa limbah Ubikayu yang berasal dari daun dan kulit umbi Ubikayu.
Memang sebaiknya jerami-jerami ini dipress sehingga tidak memerlukan tempat yang terlalu luas dan besar, demikian juga pakan yang berasaldari limbah Ubikayu, sebaiknya juga dipress.

3. Jerami dari padi ini dijadikan starter awal sumber pakan bagi Sapi bali sebanyak 40 ekor. Sapi-sapi ini dipelihara dengan system kandang sehingga kotoran dan urinenya bisa ditampung untuk dimanfaatkan dalam pembuatan pupuk organic dan pestisida nabati. Tidak menutup kemungkinan jumlah Sapi akan ditambah nanti setelah pakan memang banyak tersedia. Kalau tidak, pakan yang berlebih dapat dijual kepada peternak yang lain atau bahkan menawarkan kerja sama dengan menampung dan memeliharakan Sapi milik peternak-peternak lain yang dikelola secara liar. Dengan pemeliharaan system kandang maka nilai tambah dari kotorannya dapat menghasilkan pupuk dan obat hama yang juga dapat bernilai ekonomi tinggi.

4. Untuk tahap awal diperlukan kandang untuk 40 ekor Sapi Bali dan Unit Pengolahan Limbah Organik. Unit kandang Sapi Bali dan Unit pengolahan Limbah Organik ini harus saling berdekatan atau bergandengan. Di dalam Unit pengolahan Limbah Organik ini juga merupakan Unit Pemrosesan Pupuk Organik dan Pestisida Organik serta Unit Biogas. Pupuk Organik ada dua macam, yaitu pupuk padatan (Kompos) dan pupuk cair (Biokultur) yang diolah dari kotoran padat dari kandang sapi. Sedangkan Pestisida Organik diolah dari Urine Sapi atau kencing sapi yang diolah dengan teknik khusus diramu dengan bahan-bahan dari jenis-jenis tanaman dan bahan-bahan tertentu.

Dari Sapi Bali sebanyak 40 ekor maka diperkirakan akan dapat menghasilkan kotoran padat sebanyak sekitar 600 kg sehari (15 kg/ekor/hari x 40 ekor) dan kencing Sapi sebanyak sekitar 120 liter (dari 3 liter/ekor/hari x 40 ekor).


5. Unit Pengolahan Pupuk Organik akan dapat menghasilkan kompos sebanyak sekitar 300 kg sehari, atau akan menghasilkan Biokultur sebanyak 1.000 s/d 6.000 liter Biokultur per hari sesuai dengan kemauan dan kebutuhan pasar nantinya. Biokultur 50 liter dibuat dari 5 kg kotoran padat segar dengan 1 liter Enzim dan air sampai 50 liter, ditambah aneka bahan pupuk dari bagian-bagian tanaman yang mengandung unsure N, P atau K, serta bahan-bahan pelengkap lainnya. Biokultur bisa dijual dengan harga antara Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per liter.

Sedangkan Biourine (kencing sapi) diolah untuk menjadi obat pestisida organic bersama ramuan dari bagian-bagian tanaman yang mengandung anti hama dan penyakit tanaman. Dari urine Sapi sebanyak 120 liter per hari maka akan diperoleh sekitar 100 liter Biourine setiap hari. Dengan harga Biourine Rp 5.000 sampai dengan Rp 10.000 /liter, maka ada peluang tambahan penghasilan Biourine sebanyak antara Rp Rp 500.000 sampai dengan Rp 1 juta per hari.


Oleh karena produksi pupuk dan obat organic nanti akan melimpah, maka kemungkinan besar akan ada unit usaha baru yaitu usaha penjualan pupuk dan jasa pemupukan lahan-lahan petani yang lain di luar CMF ini. Keadaan pengembangan unit ini akan semakin membesar pada saat setelah pakan dari limbah Singkong dan bioethanol melimpah, hal ini dimungkinkan karena jumlah Sapi yang bisa disiapkan pakannya juga semakin besar.

6. Lahan Kering yang diusahakan dari CMF ini ada 50 ha. Komoditi jangka panjang yang ditanam adalah AREN, sedang tanaman tumpang sari jangka menengah yang ditanam di lahan tersebut adalah Singkong. Singkong ditanam secara bertahap agar nanti dapat dipanen secara bertahap setiap hari. Singkong akan diolah menjadi Tepung Cassava dan Tepung Mocal serta menjadi Bioethanol.

Tanaman Aren diproyeksikan mulai menghasilkan setelah umur 6 tahun, sedangkan Ubikayu dipanen antara umur 8 – 12 bulan atau sekitar 10 bulan. Pemupukan dan pengobatan terhadap hama dan penyakit hanya menggunakan pupuk organic dan pestisida organic yang diproduksi sendiri baik untuk tanaman Aren maupun Ubikayu.


7. Ubikayu atau Singkong seluas 50 ha ditanam untuk pembuatan Tepung Cassava atau tepung Mocal dan pembuatan Bioethanol. Oleh karena itu Singkong ditanam secara bertahap-tahap sehingga selama sekitar 10 bulan dapat ditanam Ubikayu seluas sekitar 50 hektar. Atau bisa juga dihitung dengan 5 bulan per hektar, atau dalam setiap bulan ditanam ubikayu seluas 5 ha. Dihitung dengan asumsi bahwa produktifitas Singkong sekitar 50 ton/ha/musim, maka dalam satu musim akan diproduksi sekitar 50 ha/musim x 50 ton/ha = 2.500 ton per musim. Dengan lama penanaman Singkong sekitar 10 bulan atau 300 hari maka akan dihasilkan sekitar 8,3 ton Singkong Segar per hari.

Penanaman Ubikayu menggunakan populasi antara 10.000 sampai 15.000 pohon per ha dengan target produksi sekitar 50 ton per hektar per musim. Ubikayu yang ditanam adalah jenis yang mempunyai potensi produksi tinggi dan yang rendemen patinya tinggi. Pemupukan dan penggunaan obat hama dan penyakit hanya menggunakan pupuk organic yang dihasilkan sendiri.  


8. Jumlah limbah Ubikayu yang dihasilkan dari produksi Umbi sekitar 8 ton per hari, maka limbah berupa kulit umbi ada sekitar 15 % -30 % dari umbinya, dan limbah berupa daun dan pucuk batang mudanya sekitar 50% - 100% dari umbinya. Maka jumlah limbah kulit sekitar 1.200 – 2.400 kg dan limbah daun dan pucuk batang muda ubikayu sekitar 4 – 8 ton per hari. Jadi limbah yang bisa dijadikan pakan ini sekitar 5,2 – 10,4 ton per hari, kalau diambil angka kecilnya saja, katakanlah 6 ton atau 6.000 kg per hari. Kalau seekor Sapi mengkonsumsi rata-rata 25 kg pakan, maka ada sekitar 240 ekor Sapi yang bisa disediakan pakannya dengan system kandang.

Artinya pakan ini bisa saja dijual kepada peternak yang lain, atau bisa juga dikembangkan unit-unit usaha baru di tempat lain untuk menampung Sapi dari para peternak yang biasanya hanya dilepas secara liar. Bisa saja dirintis usaha bagi hasil ternak antara CMF dengan peternak lain atau pemilik sapi di luar wilayah CMF sendiri dengan jaminan pakan dan pengalaman dari CMF.

Dengan system kandangisasi dan pakan yang disediakan, maka nilai tambah berupa limbah bahan pupuk dan pestisida organic akan semakin melimpah. Keadaan ini dapat menjamin ketersediaan pupuk mengurangi bahkan meniadakan ketergantungan petani akan pupuk dan obat pestisida kimia.

Pengelolaan limbah organic dari kandang ini pun bisa juga dikerjasamakan karena memang CMF sudah cukup memiliki pengalaman yang sudah mulai bisa ‘dijual’ kepada petani yang lain. Seluruh petani yang terlibat di dalam CMF ini merupakan para ahli di bidang masing-masing, dan siap menularkan ilmunya serta bertindak sebagai konsultan bagi kelompok tani yang lainnya.


9. Unit pengolahan Tepung Cassava dan Tepung Mocal (Modified Cassava Flour) disiapkan dengan kapasitas produksi sekitar 2,5 - 3 ton per hari. Tepung cassava 1 kg dihasilkan dari ubikayu sekitar 3 kg atau 3 kg ubi menjadi 1 kg. Jadi dari 8,3 ton ubi akan dihasilkan sekitar 2,76 ton tepung cassava, atau dibulatkan saja menjadi 2,5 ton tepung cassava per hari. Berarti jika tepung Cassava dinilai dengan harga Rp 2.000/kg saja, maka dapat dperoleh devisa sebesar Rp 5 juta per hari, atau Rp 150 juta per bulan, atau Rp 1,8 Milyard setiap tahunnya.

10. Seandainya CMF ini juga menyediakan unit pengolahan Bioethanol dari Ubi, maka dapat saja berbagi dengan ubi untuk cassava atau bahkan diolah dari tepung cassavanya itu sendiri. Seperti diketahui bahwa 1 liter bioethanol dapat dihasilkan dari sekitar 6,5 kg ubi. Jika semua hasil ubi diolah menjadi Bioethanol maka akan dihasilkan sekitar 1.277 liter Bioethanol atau dibulatkan menjadi 1.200 liter bioethanol setiap hari.

Unit Bioethanol akan diperbesar pada saat nanti Aren sudah mulai memproduksi nira, yaitu sekitar 6 tahun kemudian. Kapasitasnya diperkirakan akan mencapai antara 50.000 – 100.000 liter nira per hari, atau dengan hasil Bioethanol sekitar 3.500 – 7.000 liter Bioethanol per hari, atau 105 – 210 kL/ bulan atau 1.260 – 2.520 kL/tahun kalau nira digunakan semua untuk Bioethanol. Nilai hasil usaha (jika Bioethanol seharga Rp 5.000/liter) dapat mencapai sekitar Rp 6,3 – 12,6 Milyard per tahun. Bukan main!! Sangat fantastic.  


11. Unit Pabrik Gula akan menjadi salah satu andalan dalam system CMF ini, sebab dari unit ini akan dihasilkan beraneka macam produk-produk turunan dari Gula Aren ini. Dengan nira Aren sebanyak 50.000 – 100.000 liter per hari, maka akn bisa dihasilkan aneka produk Gula Aren mencapai sekitar 6.500 – 13.000 kg gula setiap hari, atau 195 -390 Ton/ bulan, atau 2.340 – 4.680 Ton per tahun. Nilai hasil usaha (jika Gula seharga Rp 5.000/kg atau per liter) dapat mencapai sekitar Rp 11,7 – 23,4 Milyard per tahun. Ini diperoleh jika diolah menjadi Gula semua. Ternyata lebih fantastic lagi. Dengan demikian para petani yang terlibat akan menjadi OKB-OKB yang mungkin saja sangat sejahtera di Indonesia.

Bagaimana menurut Anda???  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar